CIRI-CIRI PEMIMPIN DALAM ISLAM (Bag. 1)

CIRI-CIRI PEMIMPIN DALAM ISLAM

Setiap transformasi/  pembaharuan memerlukan pemimpin. Bahkan adanya pemimpin bukan saja  tuntutan alami sebuah organisasi  tetapi justru merupakan kewajiban syar’i. Adapun secara syar’i misalnya tersirat dari firman Allah tentang doa orang-orang yang selamat :“Dan jadikanlah kami sebagai imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertaqwa” [QS Al-Furqan : 74].  Demikian pula firman Allah “Taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul dan para ulul amri diantara kalian” [QS An-Nisaa’ : 59]. Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadits yang sangat terkenal : “Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap dari kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya”. Terdapat pula sebuah hadits yang menyatakan wajibnya menunjuk seorang pemimpin perjalanan diantara tiga orang yang melakukan suatu perjalanan.

Karakter Pemimpin Organisasi Da’wah

Lantas, siapakah pemimpin itu? Seperti apakah karakter pribadi pemimpin tersebut? Nah kali ini saya akan ajak antum untuk sharing tentang hal tersebut. Cerita awalnya, ketika saya diundang sebuah Organisasi Da’wah di Surabaya untuk hadir menjadi peserta workshop kepemimpinan hari ahad, 18 april 2010 di gedung Bapelkes Surabaya, saya tanya “saya harus bawa apa?” dijawab oleh staf organisasi tersebut  “ iya… ustadz diharap membuat makalah tentang kepemimpinan partai da’wah”. Singkat cerita (karena hanya ada waktu 1 hari) saya akhirnya memilih tema diatas untuk saya share dengan sahabat sekalian dan semoga bisa bermanfaat bagi pembaharuan organisasi da’wah  ini.

Dalam al Qur’an disebutkan bahwa  pemimpin hakekatnya merupakan khalifah (pengganti) Allah di muka bumi, maka dia harus bisa berfungsi sebagai kepanjangan tangan-Nya. Allah merupakan Rabb semesta alam, yang berarti dzat yang men-tarbiyah seluruh alam, maka seorang pemimpin harus bisa menjadi wasilah bagi tarbiyah Allah tersebut terhadap segenap yang ada di bumi. Jadi, seorang pemimpin harus bisa menjadi murabbiy(guru, pembina, pelatih)  bagi kehidupan di bumi.

Selanjutnya, marilah kita tengok bagaimanakah kriteria para penguasa yang digambarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Dalam hal ini kita akan mengamati sosok Raja Thalut (QS. Al-Baqarah: 247), Nabi Yusuf (QS. Yusuf: 22), Nabi Dawud dan Sulaiman (Al-Anbiya’: 79, QS Al-Naml: 15).

Raja Thalut:

“Sesungguhnya Allah telah memilihnya (Thalut) atas kalian dan telah mengkaruniakan kepadanya kelebihan ilmu dan fisik (basthat fi al-‘ilm wa al-jism)” (QS. Al-Baqarah: 247).

Nabi Yusuf:

“Dan ketika dia (Yusuf) telah dewasa, Kami memberikan kepadanya hukm dan ‘ilm” (QS. Yusuf: 22).

Nabi Dawud dan Sulaiman:

“Maka Kami telah memberikan pemahaman tentang hukum (yang lebih tepat) kepada Sulaiman. Dan kepada keduanya (Dawud dan Sulaiman) telah Kami berikan hukm dan ‘ilm” (QS. Al-Anbiya’: 79).

“Dan sungguh Kami telah memberikan ‘ilm kepada Dawud dan Sulaiman” (QS. Al-Naml: 15).

Thalut merupakan seorang raja yang shalih. Allah telah memberikan kepadanya kelebihan ilmu dan fisik. Kelebihan ilmu disini merupakan kriteria pertama (al-‘ilm), sementara kelebihan fisik merupakan kriteria kedua (al-quwwat). Al-quwwat disini berwujud kekuatan fisik karena wujud itulah yang paling dibutuhkan saat itu, karena latar yang ada adalah latar perang.

Yusuf, Dawud, dan Sulaiman merupakan para penguasa yang juga nabi. Masing-masing dari mereka telah dianugerahi hukm dan ‘ilm. Dari sini kita memahami bahwa bekal mereka ialah kedua hal tersebut. Apakah hukm dan ‘ilm itu ?

Hukm berarti jelas dalam melihat yang samar-samar dan bisa melihat segala sesuatu sampai kepada hakikatnya, sehingga bisa memutuskan untuk meletakkan segala sesuatu pada tempatnya (porsinya). Atas dasar ini, secara sederhana hukm biasa diartikan sebagai pemutusan perkara (pengadilan, al-qadha’). Adanya hukm pada diri Dawud, Sulaiman, dan Yusuf merupakan kriteria al-quwwat, yang berarti bahwa mereka memiliki kepiawaian dalam memutuskan perkara (perselisihan) secara cemerlang. Al-quwwat pada diri mereka berwujud dalam bentuk ini karena pada saat itu aspek inilah yang sangat dibutuhkan.

Disamping al-hukm sebagai kriteria kedua (al-quwwat), ketiga orang tersebut juga memiliki bekal al-‘ilm sebagai kriteria pertama (al-‘ilm). Jadi, lengkaplah sudah kriteria kepemimpinan pada diri mereka.

Pada dasarnya, karakter pemimpin yang dikemukakan oleh para ulama bermuara pada dua karakter asasi yaitu  AL ‘ILM  wa  AL QUWWAT. Ibn Taimiyyah menyebut AL ‘ILM  (ilmu dan hikmah) sebagai software yang karenanya  membutuhkan hardware agar bisa berdaya, yaitu AL QUWWAT.

bersambung………….